BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi pelatih adalah mengamati atletnya menampilkan dan memutuskan aspek teknik mana yang haus dikoreksi. Jika pelatih tidak memutuskan pendekatan perencanaan yang baik, maka pelatih akan dihadapkan dengan kompleksitas dan kecepatan keterampilan gerak yang akan dianalisis.
Pelatih tidak akan mengetahui aspek apa dalam gerak yang harus dilihat, atau kesalahan-kesalahan manakah yang pertama harus dikoreksi. Apa yang pelatih butuhkan adalah mengumpulkan informasi tentang teknik yang ditampilkan, dan meneruskan dengan perencanaan pengamatan yang baik, melakukan analisis, dan membetulkan teknik yang salah.
Jika pelatih memahami prinsip mekanika yang melekat pada teknik yang ditampilkan, maka pelatih akan mengatahui bagaimana selanjutnya setelah mengoreksi kesalahan. Dengan demikian, atletnya akan memperoleh keuntungan dan dengan cepat memperbaiki penampilannya.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uaraian latar belakang diatas maka dapat dirumuskan permasalahannya adalah sebagai berikut :
1. Apa yang menjadi dasar dalam olahraga Karate ?
2. Gerakan-gerakan apa saja yang menjadi dasar dalam olahraga Karate ?
3. Bagaimana mekanisme gerakan-gerakan tersebut ?
1.3 Maksud dan Tujuan Penulisan
Adapun maksud dan tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
- Untuk memenuhi tugas mata kuliah Analisis Mekanika Cabor
- Untuk lebih mendalami bagaimana “ menganalisis Mekanika Gerak Dalam Olahraga Karate “
- Untuk memberitahukan kepada khalayak umum bahwa olahraga itu sangat penting bagi kesehatan
- Biasakanlah untuk berolahraga karena olahraga itu sangat penting dan mempunyai banyak manfaat.
- Gerakan-gerakan yang dilakukan dalam olahraga harus sempurna agar tercipta hasil yang sempurna pula.
BAB II
PEMBAHASAN
Kihon secara literal berarti dasar atau fondasi. Praktisi Karate harus menguasai Kihon dengan baik sebelum mempelajari Kata dan Kumite. Pelatihan Kihon dimulai dari mempelajari pukulan dan tendangan (sabuk putih) dan bantingan (sabuk coklat). Pada tahap dan, siswa dianggap sudah menguasai seluruh kihon dengan baik. secara harafiah berarti dasar atau fondasi. Praktisi Karate harus menguasai Kihon dengan baik sebelum mempelajari Kata dan Kumite. Pelatihan Kihon dimulai dari mempelajari pukulan dan tendangan ( Sabuk Putih) ) dan bantingan (sabuk Coklat). Pada tahap DAN atau Sabuk Hitam, siswa dianggap sudah menguasai seluruh kihon dengan baik.
2.1 KUDA-KUDA
Kuda kuda adalah sikap dari tubuh yang stabil dan mantap yang merupakan dasar penting bagi pelaksanaan berbagai teknik untuk menghasilkan efek yang maksimun.
Pada kuda-kuda, perhatian terutama tertuju pada bagian bawah dari tubuh yaitu pinggang dan tungkai.
Agar suatu tekhnik dapat dilancarkan dengan cepat, akurat dan penuh kekuatan maka kuda-kuda harus kokoh dan stabil. Bagian atas badan seperti punggung dan kepala harus tegak dan membentuk suatu garis dengan pinggang. Sendi-sendi tidak terlalu dikejangkan sehingga memudahkan untuk bergerak melakukan suatu tekhnik.
Pada kuda-kuda, perhatian terutama tertuju pada bagian bawah dari tubuh yaitu pinggang dan tungkai.
Agar suatu tekhnik dapat dilancarkan dengan cepat, akurat dan penuh kekuatan maka kuda-kuda harus kokoh dan stabil. Bagian atas badan seperti punggung dan kepala harus tegak dan membentuk suatu garis dengan pinggang. Sendi-sendi tidak terlalu dikejangkan sehingga memudahkan untuk bergerak melakukan suatu tekhnik.
Di dalam karate ada beberapa teknik kuda-kuda di antaranya adalah :
a) Kuda – kuda berdiri normal ( Heisoku-Dachi )
Ialah kuda-kuda berdiri di tempat, di mana keua kaki rapat, serta ibu jari juga rapat serta menghadap kedepan,
b) Berdiri Dengan kaki terbuka ( Hachiji-dachi )
Posisi kuda-kuda ini di lakukan pada saat seorang karateka melakukan sikap siap- dan merupakan awal gerakan untuk memulai gerakan selanjutnya.
c) Berdiri Tunggang Kuda (Kiba-dachi)
Adalah teknik kuda-kuda yang titik berat pada tengah-tengah dan pada saat melakukan kuda-kuda ini, tubuh di topang oleh kedua kaki, dan pada saat melakukan kuda-kuda ini posisi tubuh tetap tegah dan kedua telapak kaki menghadap kedepan. Adapun lebar bukaan kaki adalah dua kali bahu
d) Kuda-kuda dengan tekuk di depan. ( Zen- Kutsu-dachi )
Kuda-kuda ini di lakukan dengan kaki depan di tekuk dan sejajar dengan lutut, sedangkan kaki belakang tetap lurus. Ibu jari agak sedikit masuk kedalam dan tapak kaki menapak dengan rata di lantai, adapun titik berat dapat pada kuda-kuda ini adalah 60 % untuk kaki depan dan 40% untuk kaki belakang.
e ) Kuda-kuda tekuk kaki belakang ( Kokutsu-Dachi)
Kuda-kuda ini kaki belakang yang di tekuk dan posisi lutut dan ibu jari sejajar, dan kaki depan agak lurus dan sedikit di tekuk pada lutut posisi tubuh tetap dalam keadaan tegak. . Dan apa bila tapak kaki di tarik lirus tampak sejajar dan apabila kedua kaki di rapatkan seolah-olah membentuk huruf L .
f) Kuda-kuda dengan kedua kaki ditekuk ( Neiko-ashi-dachi )
Kuda kuda ini dapat di lakukan dengan kedua kaki di tekuk dan pada kaki depan telapak kaki di jinjitkan, sedangkan kaki belakang tetap menempel pada lantai. Titik berat pada kuda kuda ini terletak pada kaki belakang sebagai tumpuan. Posisi tubuh tetap dalam keadaan tegak.
2.2 KEPALAN
Jenis-jenis kepalan :
1. Seiken (kepalan depan)
Pangkal jari atau buku jari telunjuk dan jari tengah dipakai untuk memukul sasaran. Pergelangan tangan harus dikencangkan dan tidak menekuk, di mana punggung tangan dan pergelangan tangan membentuk garis lurus. Pemakaian yang utama adalah dalam pukulan (tsuki). Seluruh tenaga lengan harus mengalir melalui garis lurus dan dipusatkan ke buku-buku jari telunjuk dan jari tengah.
2. Kentsui (kepalan palu)
Serangan kearah badan dilakukan dengan bagian dasar kepalan (bagian kelingking dan jari manis).
3. Uraken (pungung kepalan)
Bagian pungung tangan terutama bagian pangkal jari telunjuk dan jari tengah di pakai untuk pukulan menyentak (uchi). Dengan mengunakan tenaga lentingan dari siku, sentakan dilakukan menyamping atau dalam gerakan memutar tegak lurus(vertical) dari atas ke bawah. Letak serangan adalah muka atau bagian samping badan lawan.
4. Ippon-ken (kepalan satu jari)
Dengan jari tengah, jari manis dan kelingking yang dikepal kuat-kuat (sama dengan kepalan depan), sendi tengah dari jari telunjuk di tonjolkan dan ibu jari menekan kuat-kuat. Sasaran pukulan pada umumnya batang hidung bagian yang berada tepat dibawah hidung, dan sela tulang rusuk.
5. Nakadaka-ken (kepalan jari tengah)
Kepalan ini serupa dengan kepalan depan, tetapi sendi tengah dari jari tengah di tonjolkan keluar. Telunjuk dan jari manis menekan kuat-kuat jari tengah. Ibu jari menekan kuat jari telunjuk. Sasaran ini adalah batang hidung, bagian di bawah hidung dan sela-sela rusuk. Kepalan ini disubut juga nakadaka ipon ken (kepalan satu ruas jari tengah)
6. Hiraken (kepala jari-jari datar)
Jari-jari tangan tangan sampai ke ujung jari menyentuh telapak tangan dan ibu jari menompang ketat jari telunjuk.Sendi tengah jari-jari digunakan untuk menyerang sela di antara tulang rusuk atau bawah hidung.
2.3 PUKULAN LURUS (TSUKI)
Tsuki dalam karate dilakukan dengan menggunakan beberapa bagian dari tangan. Dapat dengan buku jari telunjuk dan jari tengah (seiken), satu buku jari (iponken), ujung jari-jari ( nukite) dan lain-lain. Sasarannya juga bervariasi, bisa muka, tenggorokan, hulu hati, perut, dan lain-lain. Demikian juga dengan tekhnik yang digunakan , bisa chudan tsuki, jodan tsuki dan lain-lain.
Agar suatu tekhnik tsuki dapat efektif faktor dasar berikut harus dipelajari dan harus diperhatikan dalam praktek :
- Lintasan yang tepat.
Gunakan jarak yang paling singkat dan lurus. Dalam waktu yang bersamaan siku tangan yang melakukan pukulan rapat menggesek sisi badan dan kepalan tangan membuat putaran kearah dalam dan tangan yang lainnya ditarik dengan cepat menggesek sisi badan yang lain.
- Cepat
Tanpa kecepatan yang tinggi pukulan tidak dapat diharapkan memberi hasil yang banyak. Untuk memaksimalkan kecepatan dan kekuatan digunakan bantuan dari tarikan (sentakan) tangan yang satu dan gerakan perputaran pinggang.
- Pemusatan Tenaga
ada saat gerakan memukul baru dimulai seluruh otot dalam keadaan rileks. Gearakan dilakukan dengan cepat dan seluruh tenaga dikonsentrasikan, otot dikencangkan pada saat pukulan membentur sasaran.
PUKULAN MELINGKAR (UCHI)
Pada Uchi pukulan dimulai dengan posisi tertekuk dan dengan siku sebagai sumbu, bagian depan lengan bergerak dengan lintasan setengah melingkar. Dengan cepat dan kuat gunakan sepenuhnya lenturan dari siku.
MACAM – MACAM PUKULAN DALAM KARATE
2.4 TANGKISAN (UKE)
Prinsip tangkisan adalah menyimpangkan serangan lawan. Hal ini dapat dicapai dengan mendorong serangan alwan kebawah, keatas ataupun kesamping dan dapat juga menangkap tangan atau kaki lawan. Seluruh tangkisan harus dilakukan pada saat awal dari serangan lawan. Untuk itu mutlak dikuasai daya antisipasi terhadap serangan lawan.
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menangkis :
a. Cegah serangan selanjutnya.
Tangkisan yang baik harus mencegah lawan untuk melakukan serangan berikutnya. Dengan demikian tangkisan harus bersifat Ofensif.
b. Dengan Timing yang tepat pukulan dan tendangan dapat ditangkis dengan hanya menggunakan tenaga secukupnya.
c. Posisi dalam menangkis harus selalu memungkinkan kita melakukan serangan balasan.
d. Rusakkan keseimbangan badan lawan.
e. Perputaran lengan yang digunakan untuk menangkis dapat membuat tangkisan lebih mudah menyimpangkan serangan lawan. Sebagaimana halnya dalam menyerang, peranan putaran pinggang juga sangat menentukan efektifitas tangkisan. Putaran pinggang diawali oleh tarikan tangan yang lainnya kesisi badan pada saat tangan yang satu melakukan tangkisan.
MACAM – MACAM TANGKISAN
2.5 TENDANGAN (GERIE)
Keseimbangan badan sangat penting bukan saja karena pada waktu melakukan tendangan, seluruh berat badan ditumpu oleh satu kaki, tapi juga karena adanya tekanan balik pada waktu tendangan membentur sasaran. Untuk memelihara keseimbangan ini kaki yang menumpu harus berdiri mantap pada lantai dengan pergelangan kaki dikencangkan. Pada saat melakukan tendangan, pusatkan semua tenaga pada kaki yang menendang dengan bantuan gerakan pinggang dan tarik kaki kembali dengan cepat untuk kembali ke posisi semula yang memungkinkan melakukan tekhnik lainnya.
Beberapa faktor dasar yang harus diperhatikan dalam melakukan tendangan :
- Pada awal gerakan angkat kaki yang akan menendang dengan lutut ditekuk penuh, rapat disamping kaki yang lainnya dan lakukan tendangan dengan bantuan gerakan pinggang.
- Hal yang penting dalam tendangan adalah membengkok dan meluruskan lutut. Pada tendangan snap (melecut) misalnya Keage setelah lutut terangkat, tempurung lutut menjadi pangkal dari suatu gerakan setengah melingkar yang cepat. Pada tendangan menyodok seperti Kekomi, lutut yang dalam posisi terangkat itu diluruskan dengan cepat dan kuat kearah sasaran.
Gerakan Tendangan (Gerie) terbagi ke dalam berbagai macam diantaranya :
a. Maegerie
Merupakan tendangan, dengan cara, mengangkat paha sehingga sampai setinggi pusar, kemudian kaki di luruskan dengan cepat dan keras, dan posisi telapak kaki agak keatas.

b. Mawashi Ushiro Gerie
Adalah tendangan memutar yang efeknya sangat besar pada objek yang menjadi ini, badan di putar 60 derajat kebelakang, kepala menoleh ke arah lawan/objek kemudian kaki di putar dan di kenai pada sasaran, well saya pernah mencobanya sekali pada pohon pisang yang langsung rubuh dengan akarnya, jadi saran saya adalah hati-hati jika menggunakannya pada seseorang.
Tendangan Ushiro Gerie
Tendangan Mawashi Gerie
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Sasaran dari evaluasi adalah untuk megukur / menilai seberapa jauh sasaran dari pelajaran tersebut dapat dipenuhi.Maksudnya adalah bahwa bentuk evaluasi ini akan memperlihatkan kemajuan proses dan hasil yang diperoleh dari mengikuti instruksi untuk mendapatkan keterampilan bulutangkis ini.
Mungkin tidak diperlukan atau tidak diinginkan untuk menguatkan semua materi yang disajikan disini dalam situasi mengajar atau belajar tertentu.Pengajar dan pelajar harus bersama - sama membahas dan memilih materi yang paling tepat untuk kursus latihannya.
Harus diingat bahwa dibutuhkan waktu yang cukup untuk berlatih dan belajar, bila seorang ingin menyempurnakan keterampilan fisiknya dan demikian juga mematangkan pengetahuan serta mengembangkan pengertiannya akan olahraga bulutangkis ini.Waktu yang tersedia mungkin tidak mencukupi untuk memungkinkan semua pelajar sehingga dapat mendemonstrasikan tingkat penangkapannya atau penampilan keterampilannya.
Pengajar mungkin ingin menambahkan diagramnya evaluasi yang ada dengan suatu test secara tertulis, yang meliputi analisa dari penampilan, prosedur - prosedur dan peraturan – peraturan.
Evaluasi akhir dengan tujuan menseleksi pelajar terbaik, harus mengikut sertakan beberapa kemungkinan yang dapat mempengaruhi penampilan individu.
DAFTAR PUSTAKA
Yusuf, Boyke dan Yadi. (2007). Biomekanika Olahraga. Bandung.
Sunaryadi, Yadi. (2008). Analisis Mekanika Cabang Olahraga. Bandung.







Tidak ada komentar:
Posting Komentar